![]() |
| Caption: berhasil Juara I Matematika Terintegrasi, Cici Pratiwi, (kiri). Juara I bidang IPA Terintegrasi tingkat Kabupaten Kubu Raya, Syahro, Desain Gambar: (Ai). |
Madrasah yang didirikan KH. Abd. Hakim pada 1979 itu menjadi saksi perjalanan panjang pendidikan di tengah kondisi fasilitas yang sederhana.
Namun, keterbatasan tersebut tidak menjadi alasan untuk berhenti bermimpi.
Pada Kompetisi Sains Terintegrasi tingkat Kabupaten Kubu Raya yang digelar 10 Juli 2023, dua siswi MI Hidayatussibyan berhasil mencatatkan prestasi membanggakan.
Cici Pratiwi berhasil meraih Juara I Matematika Terintegrasi, sementara Syahro menorehkan prestasi pada bidang IPA Terintegrasi tingkat Kabupaten Kubu Raya.
Prestasi tersebut juga mendapat piagam penghargaan dari Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Kementerian Agama Republik Indonesia.
Tetapi perjalanan Cici tidak berhenti di tingkat kabupaten.
Ia kembali menunjukkan kemampuannya dengan meraih Juara III Sains Matematika tingkat Provinsi Kalimantan Barat.
Prestasi itu sekaligus menjadi pembuktian bahwa keterbatasan fasilitas tidak selalu menentukan sejauh mana seorang siswa mampu melangkah.
Gedung boleh sederhana. Fasilitas boleh terbatas. Tetapi mimpi tidak boleh ikut dibatasi.
Ketua Yayasan MI Hidayatussibyan, Nurjali, S.Pd.I., menyampaikan apresiasi kepada guru pembimbing, Sarwono, S.Pd.I., yang dinilai konsisten dan telaten mendampingi para siswa.
Menurutnya, prestasi yang diraih Cici bukanlah sesuatu yang datang secara tiba-tiba. Ada proses panjang di belakangnya, mulai dari ketekunan siswa, kesabaran guru, hingga dukungan yayasan dalam memberikan ruang bagi peserta didik untuk mengembangkan kemampuan.
“Kami sangat berterima kasih kepada guru pembimbing Sarwono, S.Pd.I., yang sangat telaten membimbing siswa. Walaupun sekolah kami seperti dalam film Laskar Pelangi, semangat kami tidak pernah padam untuk mencetak generasi yang berprestasi,” ujar Nurjali.
BUKAN SEKADAR PIALA
Bagi pihak yayasan, capaian Cici Pratiwi bukan sekadar piala atau piagam penghargaan.
Prestasi tersebut menjadi simbol bahwa siswa yang belajar di madrasah dengan kondisi sederhana tetap memiliki kesempatan yang sama untuk berkompetisi dan menunjukkan kemampuan hingga tingkat provinsi.
Namun, di balik prestasi tersebut masih terdapat persoalan yang membutuhkan perhatian.
Keterbatasan sarana dan prasarana menjadi salah satu pekerjaan rumah yang hingga kini dihadapi MI Hidayatussibyan.
Yayasan berharap pemerintah tidak hanya melihat prestasi yang berhasil ditorehkan para siswa, tetapi juga melihat kondisi tempat mereka belajar setiap hari.
Dukungan terhadap fasilitas pendidikan, menurut yayasan, penting agar semangat guru dan siswa dapat terus berkembang.
“Kami hanya berharap kepada pemerintah agar sekolah kami lebih diperhatikan. Kami memang memiliki gedung yang sederhana, tetapi kami memiliki semangat yang besar untuk mencetak siswa-siswi luar biasa,” kata Nurjali.
DARI RUANG SEDERHANA, LAHIR MIMPI BESAR
Kisah MI Hidayatussibyan menjadi gambaran bahwa prestasi tidak selalu lahir dari ruang kelas yang megah.
Dari ruang belajar yang sederhana, tumbuh mimpi besar.
Dari tangan guru yang tekun, lahir siswa berprestasi.
Dan dari keterbatasan fasilitas, Cici Pratiwi mampu membawa nama MI Hidayatussibyan hingga meraih Juara III Sains Matematika tingkat Provinsi Kalimantan Barat.
Sekolah boleh sederhana. Fasilitas boleh terbatas.
Tetapi kesempatan untuk berprestasi tidak boleh dibatasi.
Penulis: Bsg / Editor: Dani 74
Sumber: Nurjali, S.Pd.I., Ketua Yayasan MI Hidayatussibyan.

0Komentar