TfYlBSY5TfriTfA9GSdoTSzoBA==
Light Dark
 “Robok-Robok dan Jati Diri Mempawah: Pesan Pangeran Anom untuk Generasi Muda”

“Robok-Robok dan Jati Diri Mempawah: Pesan Pangeran Anom untuk Generasi Muda”

Daftar Isi
×
Caption:
Pangeran Anom "Alpian" Ucapkan selamat merayakan Festival Budaya Robok-Robok. Desain Gambar. (Ist). 
MEMPAWAH - Di tengah perubahan zaman yang semakin cepat, menjaga tradisi bukan perkara sederhana. Namun bagi masyarakat Mempawah, budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu. Ia adalah bagian dari jati diri yang perlu dirawat, dimaknai, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Semangat itulah yang kembali terasa dalam Festival Budaya Robok-Robok Tahun 2026. Bagi masyarakat Mempawah, Robok-Robok bukan hanya sebuah agenda tahunan yang menghadirkan kemeriahan. Di balik tradisi tersebut terdapat sejarah, nilai kebersamaan, penghomatan terhadap leluhur, sekaligus identitas yang melekat dalam kehidupan masyarakat.

Salah satu tokoh yang turut menyuarakan pentingnya menjaga warisan budaya tersebut adalah Alpian (Beot), tokoh adat Dayak dengan gelar Pangeran Anom di Kerajaan Amantubillah Mempawah.

Sebagai tokoh adat sekaligus anggota DPRD Kabupaten Mempawah dari Fraksi PDI Perjuangan, Alpian berada dalam dua ruang yang saling berkaitan, sebagai wakil rakyat dan sebagai bagian dari masyarakat yang memiliki tanggung jawab moral dalam menjaga nilai-nilai budaya.

Menurut Alpian, budaya tidak semestinya dipahami sebatas pakaian adat, rumah tradisional, ritual, maupun festival yang digelar setiap tahun.

Budaya, ucap dia, memiliki makna yang jauh lebih dalam karena menjadi bagian dari cara masyarakat mengenali dirinya, menghormati sejarah, serta membangun hubungan antargenerasi.

“Robok-Robok bukan hanya sebuah kegiatan yang dilaksanakan setiap tahun. Di dalamnya ada nilai sejarah, kebersamaan dan penghormatan terhadap warisan leluhur. Karena itu, kita semua memiliki tanggung jawab untuk menjaga agar tradisi ini tetap hidup dan dikenal oleh generasi berikutnya,” demikian inti pandangan Alpian mengenai pentingnya pelestarian budaya.

Tradisi di Tengah Perubahan Zaman

Perubahan zaman tidak bisa dihindari. Teknologi berkembang, pola kehidupan masyarakat berubah, dan generasi muda tumbuh dengan berbagai bentuk budaya baru.

Namun, bagi Alpian, kemajuan tidak seharusnya membuat masyarakat kehilangan hubungan dengan akar budayanya.

Justru ketika sebuah daerah semakin berkembang, kesadaran terhadap identitas lokal menjadi semakin penting.

Kemajuan daerah dan pelestarian budaya bukanlah dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya dapat berjalan berdampingan selama masyarakat tetap memiliki kesadaran untuk menjaga nilai-nilai yang diwariskan para leluhur.

Dalam konteks itulah Festival Robok-Robok memiliki arti penting. Festival tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk kembali mengingat asal-usul, berkumpul dalam semangat kebersamaan, sekaligus memperkenalkan kekayaan budaya Mempawah kepada masyarakat luas.

Lebih jauh, Robok-Robok juga dapat menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini.

Sebab sebuah tradisi tidak akan bertahan hanya karena pernah dilakukan oleh generasi terdahulu. Tradisi akan tetap hidup apabila generasi hari ini memahami maknanya dan generasi berikutnya memiliki ruang untuk ikut menjaganya.

Generasi Muda Menjadi Kunci

Salah satu perhatian penting dalam pelestarian budaya adalah keterlibatan generasi muda.

Menurut Alpian, anak muda jangan hanya ditempatkan sebagai penonton dalam setiap kegiatan kebudayaan. Mereka harus diberikan kesempatan untuk terlibat secara langsung, sehingga budaya tidak berhenti sebagai sesuatu yang hanya mereka lihat, tetapi menjadi sesuatu yang mereka pahami dan rasakan.

“Kalau generasi muda tidak lagi mengenal budayanya, maka ada kekhawatiran nilai-nilai yang diwariskan leluhur akan semakin jauh dari kehidupan mereka. Karena itu, budaya harus kita hadirkan dalam kehidupan sehari-hari dan terus kita kenalkan dengan cara yang relevan dengan zaman,” ujarnya.

Pendekatan terhadap generasi muda pun tidak harus selalu menggunakan cara-cara lama. Nilai budaya dapat diperkenalkan melalui pendidikan, kreativitas, ruang seni, media digital, maupun berbagai bentuk kegiatan yang dekat dengan kehidupan anak muda hari ini.

Dengan demikian, pelestarian budaya bukan berarti membekukan tradisi agar tidak berubah sama sekali. Sebaliknya, budaya perlu dirawat dengan tetap membuka ruang bagi kreativitas dan perkembangan zaman, tanpa kehilangan nilai dasar yang menjadi jati dirinya.

Menjaga Warisan, Merawat Identitas

Keberadaan tokoh adat seperti Alpian (Beot) menjadi bagian penting dalam proses menjaga kesinambungan tersebut.

Tokoh adat tidak hanya memiliki peran dalam menjaga nilai dan tradisi, tetapi juga dapat menjadi penghubung antara pengetahuan generasi terdahulu dengan generasi masa kini.

Keteladanan, keterlibatan, dan kepedulian para tokoh masyarakat dapat menjadi contoh bahwa menjaga budaya bukan hanya tugas satu kelompok atau satu generasi.

Robok-Robok pada akhirnya bukan sekadar tentang kemeriahan sebuah festival.

Di dalamnya terdapat pesan tentang bagaimana sebuah masyarakat mengenali sejarahnya, menghormati leluhurnya, dan menjaga identitas yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Dari Mempawah, tradisi itu terus dirawat.

Bukan semata-mata untuk mengenang masa lalu, tetapi untuk memastikan bahwa di tengah derasnya perubahan zaman, generasi mendatang masih memiliki sesuatu yang dapat mereka kenali sebagai bagian dari dirinya.

Sebab budaya yang hidup bukan hanya budaya yang terus dilaksanakan, tetapi budaya yang dipahami, dicintai, dan diwariskan dengan kesadaran.

Dan Robok-Robok adalah salah satu cerita tentang bagaimana masyarakat Mempawah terus menjaga jati dirinya. (Dani 74).

0Komentar

Special Ads
Special Ads
Special Ads