![]() |
| Caption: Kondisi Masjid Agung Sultan Anum Sekadau. Foto. (Dani 74). |
Pantauan di lokasi menunjukkan air hujan menetes dari bagian atap hingga kubah masjid. Sejumlah ember terlihat disusun di tengah ruang salat utama untuk menampung air yang terus menetes agar tidak menggenangi lantai.
Akibat kebocoran tersebut, pengurus masjid terpaksa menggulung karpet salat demi menghindari kerusakan. Kondisi ini dinilai mengganggu kenyamanan jemaah saat menjalankan ibadah, terutama pada pelaksanaan salat berjemaah dan salat Jumat.
Selain kebocoran, pada beberapa bagian bangunan juga tampak adanya lubang di dinding serta retakan yang memunculkan tanda tanya mengenai kualitas pengerjaan bangunan yang tergolong masih baru.
Marbot Masjid Agung Sekadau membenarkan bahwa kebocoran tersebut sudah berlangsung cukup lama.
"Kalau hujan deras memang langsung menetes airnya. Makanya karpet sengaja digulung, takut basah karena kalau menjemurnya susah, karpetnya berat," ujarnya saat ditemui di lokasi.
Menurutnya, bagian atas bangunan sebenarnya sudah pernah dicor dan dilakukan perbaikan. Namun, upaya tersebut belum mampu menghentikan rembesan air yang masuk melalui celah-celah di sekitar kubah.
Ia juga mengungkapkan bahwa Pemerintah Daerah (Pemda) Sekadau sempat melakukan perbaikan satu kali. Namun hingga kini belum ada penanganan lanjutan secara menyeluruh sehingga kebocoran masih terjadi setiap kali hujan turun dengan intensitas tinggi.
Kondisi ini disayangkan oleh warga dan para jemaah mengingat Masjid Agung Sekadau baru diresmikan pada tahun 2024. Mereka berharap pemerintah daerah dan instansi terkait segera melakukan evaluasi serta perbaikan menyeluruh agar rumah ibadah tersebut dapat digunakan dengan aman, nyaman, dan layak oleh masyarakat. (Dani 74).

0Komentar