![]() |
| Caption: Sri Eko Sriyanto Galgendu (tengah) didampingi dua tokoh nusantara saat menghadiri Budaya Nusantara di Majesty Grand Ballroom Hotel Griptha, Kudus, Selasa (11/8). Foto. (Ist). |
Menurut Sri Eko Sriyanto Galgendu, tokoh spiritual Indonesia, acara Gebyar Budaya Nusantara di Kudus ini merupakan sebuah pesamuan agung “Raja Wali”, yang berarti perpaduan antara Raja dan Wali. Acara tersebut diselenggarakan oleh para wayah ndalem dari wilayah pesisir utara Pulau Jawa, sebuah wilayah yang memiliki nilai sejarah kuat berkaitan dengan para Sunan dan Wali.
Dari pihak panitia penyelenggara acara sendiri, muncul ide dan gagasan untuk segera membentuk “Rumah Budaya” yang ideal di seluruh kabupaten dan kota se-Jawa Tengah. Rumah Budaya tersebut diharapkan menjadi wadah untuk melakukan pelestarian dan pengembangan seni serta budaya daerah dengan orientasi pada penguatan budaya nasional yang tidak bersifat sektarian.
Dengan demikian, seni dan budaya dapat menjadi model bagi pengembangan budaya di daerah lain, tidak terbatas hanya di Jawa Tengah. Seni dan budaya beserta hasil karya khas daerah setempat, termasuk kerajinan dan keragaman jenis makanan, juga dapat dijadikan keunggulan khas atau semacam local genius dari masing-masing daerah.
Acara Gebyar Budaya yang menampilkan berbagai ragam tarian dalam narasi mitologi Jawa tersebut diselingi dengan pemberian buku Ensiklopedi Sunan Kalijaga dari panitia. Sementara itu, Sri Eko Sriyanto Galgendu memberikan “Kitab MA HA IS MA YA” kepada para tokoh dan pejabat Kabupaten Kudus.
Acara tersebut sekaligus dibuka secara resmi oleh para tokoh dan pejabat Kabupaten Kudus dengan pemukulan gong. Pembukaan acara juga diisi dengan pencerahan kepada para aktivis budaya yang datang dari berbagai kabupaten dan kota se-Jawa Tengah.
Kesepakatan deklarasi serta tekad untuk menjaga dan mengembangkan budaya daerah, sekaligus gerakan kesadaran dan pemahaman spiritual, pun diikrarkan. Upaya memelihara dan mengembangkan budaya dipandang sebagai wujud dharma bakti kepada bangsa dan negara guna membentuk karakter anak bangsa melalui budaya dan spiritual.
Usai acara Gebyar Budaya Nusantara, Selasa malam, 11 Agustus 2026, sahabat dan kerabat GMRI (Gerakan Moral Rekonsiliasi Indonesia) sempat menikmati Soto Kerbau yang khas di Kota Wali, Kudus, Jawa Tengah. Setelah itu, rombongan melanjutkan silaturahmi ke kediaman Eyang RM. Bambang Soeryadhi Soeryodhoharjo di Kadilangu, Demak, untuk menggali berbagai pengalaman dari sang Eyang yang kini telah berusia 116 tahun.
Dalam dialog santai bersama Eyang Kakung, berbagai persoalan terungkap dan menjadi topik perbincangan hangat hingga menjelang tengah malam. Ketika kembali ke Hotel Griptha, meskipun waktu sudah larut malam, sahabat dan kerabat GMRI masih menyambangi Pesanggrahan Tri Utomo, seorang kawan yang giat melestarikan konstruksi dan seni arsitektur khas Jawa untuk dijadikan pusat Perkumpulan Forum Lintas Agama di Kota Kudus dan sekitarnya.
Pesanggrahan yang dikelola oleh seorang sahabat yang sungguh gigih dan tekun membangun kerukunan antarumat beragama sejak puluhan tahun silam tersebut mampu mempertemukan para tokoh agama untuk ikut memecahkan berbagai persoalan masyarakat. Dengan demikian, kerukunan dan kedamaian hidup bersama dapat terus dijaga tanpa menimbulkan gesekan yang sering kali dapat menyulut keresahan dan kerusuhan.
Toleransi untuk menjaga kerukunan hidup antarumat beragama di Kabupaten Kudus dan sekitarnya juga diekspresikan melalui keyakinan atau anggapan bahwa menyembelih sapi untuk dikonsumsi dagingnya merupakan sesuatu yang pamali. Karena itu, Soto dan Pindang daging kerbau di Kudus dan sekitarnya menjadi begitu terkenal.
Tradisi tersebut kemudian menjadi perlambang toleransi untuk tidak menyembelih sapi sebagai bentuk rasa hormat terhadap umat Hindu yang percaya bahwa sapi merupakan hewan yang suci dan sakral bagi umat Hindu di Bali maupun umat Hindu yang ada di Indonesia. (Jacob E)

0Komentar