TfYlBSY5TfriTfA9GSdoTSzoBA==
Light Dark
Seminar dan Festival Lanskap Lestari Dorong Kolaborasi untuk Pengelolaan Lanskap Berkelanjutan

Seminar dan Festival Lanskap Lestari Dorong Kolaborasi untuk Pengelolaan Lanskap Berkelanjutan

Daftar Isi
×
Caption:
Sesi foto bersama kegiatan Seminar dan Festival Lanskap Lestari yang diselenggarakan oleh Farmers for Forest Protection Foundation (4F) yang diselenggarakan di Universitas Tanjungpura, Rabu (12/8).Foto.(ist)., 
PONTIANAK - Pengelolaan lanskap yang berkelanjutan membutuhkan kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pemerintah, perguruan tinggi dan lembaga penelitian, masyarakat adat, petani, organisasi masyarakat sipil hingga sektor swasta. Hal tersebut menjadi salah satu pesan utama dalam kegiatan Seminar dan Festival Lanskap Lestari yang diselenggarakan oleh Farmers for Forest Protection Foundation (4F).

Dalam kata sambutannya, Direktur Eksekutif 4F, Tirza Pandelaki, mengatakan bahwa lanskap tidak dapat dipandang hanya dari satu perspektif. Menurutnya, hutan, tanah, pangan, kebudayaan, dan penghidupan masyarakat merupakan bagian yang saling berkaitan dalam satu kesatuan lanskap.

“Bagi 4F, kegiatan hari ini berangkat dari satu pemahaman sederhana: hutan, tanah, pangan, kebudayaan, dan penghidupan masyarakat tidak berdiri sendiri. Semuanya berada dalam satu lanskap dan saling berkaitan,” ujar Tirza. 

Ia menilai, pengelolaan lanskap membutuhkan perpaduan antara penelitian dan data ilmiah dengan pengalaman serta pengetahuan masyarakat yang selama ini hidup dan mengelola wilayah tersebut.

Menurut Tirza, pengetahuan yang dihasilkan oleh lembaga penelitian dan perguruan tinggi tidak seharusnya berhenti sebagai laporan atau hanya menjadi bahan diskusi di ruang akademik. Pengetahuan tersebut perlu dipertemukan dengan pengalaman masyarakat agar dapat memberikan manfaat nyata di tingkat lapangan.

“Kita ingin mendiskusikannya bersama: apa artinya bagi masyarakat, apa yang relevan dengan kondisi di lapangan, dan apa yang dapat kita lakukan bersama setelah ini,” katanya.

Masyarakat sebagai Mitra Setara

Tirza menegaskan pentingnya menempatkan masyarakat adat, komunitas lokal, dan petani bukan sekadar sebagai penerima manfaat, tetapi sebagai pemilik pengetahuan dan mitra yang setara dalam pengelolaan lanskap.

“Masyarakat adat, komunitas lokal, dan petani adalah ilmuwan lokal. Mereka adalah pemilik pengetahuan yang lahir dari pengalaman panjang berinteraksi dengan lanskap. Mereka bukan sekadar penerima manfaat, tetapi merupakan mitra yang setara dalam membangun solusi,” tegasnya.

Ia mengatakan, masing-masing pihak memiliki peran yang berbeda. Pemerintah memiliki kebijakan dan kewenangan, perguruan tinggi serta lembaga penelitian memiliki pengetahuan dan data ilmiah, sementara masyarakat memiliki pengalaman serta pengetahuan lokal.

Di sisi lain, organisasi masyarakat sipil dan sektor swasta dinilai dapat berkontribusi dalam membangun dukungan, memperkuat kapasitas, serta memperluas praktik-praktik baik yang telah berkembang di masyarakat.

“Tidak ada satu pihak yang dapat menyelesaikan persoalan lanskap sendirian,” ujarnya.

Karena itu, Seminar Lanskap Lestari diharapkan tidak hanya menjadi ruang untuk mempresentasikan hasil penelitian, tetapi juga menjadi forum untuk saling mendengar, menguji pengetahuan, mempertemukan berbagai perspektif, dan membangun langkah bersama.

Lanskap Lestari dan Penghidupan Masyarakat

Selain seminar, Festival Lanskap Lestari menjadi ruang untuk memperlihatkan potensi masyarakat yang tumbuh dari lanskap yang mereka kelola.

Menurut Tirza, masyarakat tidak hanya berperan sebagai penjaga lanskap. Mereka juga memiliki pengetahuan, produk, budaya, kreativitas, serta potensi ekonomi yang berkembang dari lingkungan tempat mereka hidup.

“Lanskap yang lestari bukan hanya tentang bagaimana kita menjaga hutan dan lingkungan. Lanskap yang lestari juga harus mampu memberikan ruang bagi masyarakat untuk hidup layak, mengembangkan usaha, mempertahankan budaya, dan membangun masa depan yang lebih baik,” jelasnya.

Ia menekankan bahwa agenda perlindungan lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat tidak semestinya ditempatkan sebagai dua kepentingan yang berlawanan.

“Menjaga lanskap dan meningkatkan penghidupan masyarakat bukanlah dua agenda yang harus dipertentangkan. Keduanya harus berjalan bersama dan saling menguatkan,” kata Tirza.

Melalui kegiatan tersebut, 4F berharap terbangun kolaborasi yang lebih kuat antara pemerintah, dunia akademik, lembaga penelitian, masyarakat, dunia usaha, dan organisasi masyarakat sipil.

Pertemuan tersebut juga diharapkan tidak berhenti pada pertukaran gagasan, tetapi menghasilkan langkah konkret yang dapat diterapkan di tingkat tapak.

“Semoga pertemuan hari ini memperkuat kolaborasi kita, mempertemukan pengetahuan dengan pengalaman, dan menghasilkan gagasan-gagasan yang dapat diterjemahkan menjadi tindakan nyata di tingkat tapak,” pungkas Tirza. ( Dani 74) 

0Komentar

Special Ads
Special Ads
Special Ads