TfYlBSY5TfriTfA9GSdoTSzoBA==
Light Dark
Sekolah “Laskar Pelangi” di Kubu Raya Berprestasi di Tengah Bangunan Tua, Pemerintah Diminta Turun Tangan

Sekolah “Laskar Pelangi” di Kubu Raya Berprestasi di Tengah Bangunan Tua, Pemerintah Diminta Turun Tangan

Daftar Isi
×

 

Caption:
Kondisi sekolah MI Hidayatussibyan, Parit Kapitan, Desa Sungai Ambangah, Kabupaten Kubu Raya, didirikan tahun 1979 dan direhabilitasi pada tahun 1990. Foto. (NR). 
KUBU RAYA - Di tengah keterbatasan sarana dan prasarana, prestasi justru mampu ditorehkan para siswa MI Hidayatussibyan, Parit Kapitan, Desa Sungai Ambangah, Kabupaten Kubu Raya.

Madrasah yang telah berdiri sejak 1979 itu melahirkan siswa berprestasi hingga tingkat provinsi. Namun, di balik capaian tersebut, kondisi fisik bangunan sekolah disebut mulai dimakan usia.

Kondisi MI Hidayatussibyan kembali menjadi perhatian setelah pemberitaan mengenai kondisi sekolah dan prestasi siswanya beredar luas di sejumlah media dan media sosial, termasuk TikTok, Selasa (11/8/2026).

Sekolah tersebut bahkan layak disebut sebagai “Sekolah Laskar Pelangi” sebuah gambaran tentang semangat pendidikan yang tetap menyala meski berada di tengah keterbatasan.

Ketua DPD Asosiasi Wartawan Internasional (ASWIN) Kalimantan Barat, Budi Gautama, meminta perhatian publik terhadap kondisi sekolah tidak berhenti sebatas viral di media sosial.

Menurutnya, sorotan tersebut seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah dan instansi terkait untuk turun langsung melakukan verifikasi kondisi sekolah.

“Saya terharu sekaligus prihatin. Prestasi anak-anak pada 2023 memang sudah berlalu, tetapi perjuangan mereka tidak boleh dilupakan. Dari bangunan yang sederhana, mereka mampu membawa nama sekolah hingga tingkat provinsi,” tegas Budi.

Ia mengingatkan agar pemerintah tidak menunggu kondisi bangunan semakin buruk sebelum mengambil langkah.

“Jangan sampai pemerintah baru bergerak setelah bangunan benar-benar rapuh atau membahayakan siswa,” tambahnya.

Berprestasi di Tengah Keterbatasan

Kisah prestasi siswa MI Hidayatussibyan menjadi bagian menarik dari perjalanan madrasah tersebut.

Pada 2023, Cici Pratiwi tercatat meraih prestasi bidang Sains Matematika mulai dari tingkat kabupaten hingga provinsi. Sementara Syahro berhasil meraih prestasi Sains IPA tingkat kabupaten.

Prestasi tersebut diperkuat dengan piagam yang berasal dari Direktorat Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Kementerian Agama RI.

Capaian itu menunjukkan bahwa keterbatasan fasilitas tidak serta-merta memadamkan semangat belajar siswa.

Justru dari lingkungan pendidikan yang sederhana, para siswa mampu menunjukkan kemampuan dan bersaing hingga tingkat yang lebih tinggi.

Namun, keberhasilan tersebut kini berhadapan dengan persoalan lain, yakni kondisi fisik bangunan sekolah.

MI Hidayatussibyan disebut dirintis oleh KH. Abd. Hakim dan telah menjadi bagian dari perjalanan pendidikan masyarakat Desa Sungai Ambangah selama puluhan tahun.

Seiring bertambahnya usia bangunan, sebagian material, khususnya dinding papan, disebut mengalami pelapukan.

Kondisi tersebut membutuhkan pemeriksaan teknis untuk memastikan tingkat kerusakan sekaligus menentukan apakah bangunan masih memenuhi standar keselamatan dan kelayakan sebagai tempat berlangsungnya kegiatan belajar mengajar.

Caption:
Ketua DPD Asosiasi Wartawan Internasional (ASWIN) Kalimantan Barat, Budi Gautama, Foto. (Ist). 
Bukan Sekadar Viral, Pemerintah Diminta Verifikasi

Budi menegaskan, sorotan terhadap kondisi MI Hidayatussibyan bukan dimaksudkan untuk menghakimi pemerintah.

Sebaliknya, pemberitaan dan perhatian publik diharapkan menjadi pintu masuk bagi pemerintah untuk melihat kondisi sebenarnya di lapangan.

“Saya berharap pemerintah hadir. Jangan menunggu bangunan semakin rapuh baru bertindak. Kalau memang hasil pemeriksaan menunjukkan bangunan membutuhkan rehabilitasi atau pembangunan baru, tentu harus ada langkah sesuai mekanisme dan kemampuan anggaran negara,” ujarnya.

Menurut Budi, pendidikan yang layak tidak hanya berkaitan dengan proses belajar mengajar dan kualitas tenaga pendidik, tetapi juga menyangkut ketersediaan sarana dan prasarana yang aman.

Ia menilai kondisi sekolah harus diverifikasi secara objektif, baik dari sisi teknis maupun administratif.

Khusus madrasah, aspek sarana dan prasarana juga berkaitan dengan kebijakan Kementerian Agama mengenai standar dan kelayakan sarana pendidikan madrasah.

Karena itu, menurutnya, kondisi MI Hidayatussibyan sebaiknya tidak hanya dinilai berdasarkan foto atau video yang beredar di media sosial.

Jangan Menunggu Sampai Terjadi Insiden

Budi meminta seluruh pihak mengedepankan prinsip kehati-hatian, terutama menyangkut keselamatan siswa dan guru.

“Keselamatan siswa dan guru harus menjadi prioritas. Kita tidak ingin menunggu terjadi kerusakan berat, apalagi sampai ada korban, baru semua pihak bergerak,” katanya.

Ia berharap pemerintah daerah, Kementerian Agama, serta instansi terkait dapat membuka ruang koordinasi untuk mencari solusi terhadap kebutuhan sarana pendidikan di madrasah tersebut.

Jika berdasarkan pemeriksaan teknis bangunan memang membutuhkan rehabilitasi atau pembangunan baru, proses tersebut diharapkan dilakukan sesuai perencanaan, mekanisme, serta ketentuan pengelolaan anggaran yang berlaku.

Viral Harus Berujung Solusi

Budi juga mengapresiasi para guru, siswa, masyarakat, dan media yang telah mengangkat kembali kondisi MI Hidayatussibyan.

“Terima kasih kepada rekan-rekan media yang telah membantu mengangkat persoalan ini. Harapan saya, pemberitaan ini tidak berhenti sebagai viral selama beberapa hari. Jadikan viral ini sebagai pintu masuk untuk menghadirkan solusi,” tuturnya.

Menurutnya, anak-anak di daerah juga memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan serta fasilitas belajar yang aman dan layak.

Kini perhatian publik tertuju pada pemerintah dan instansi terkait. Apakah kisah “Sekolah Laskar Pelangi” di Parit Kapitan hanya akan menjadi cerita viral sesaat, atau justru menjadi momentum untuk memperbaiki sarana pendidikan?

Satu hal yang menjadi pesan penting dari kisah ini: prestasi anak-anak tidak boleh kalah oleh keterbatasan bangunan.

Dan sebelum kondisi semakin buruk, verifikasi serta langkah nyata dari pihak berwenang menjadi hal yang dinantikan masyarakat. 

Penulis: Martin Ateng /Editor: Dani 74

Sumber: Budi Gautama, Ketua DPD ASWIN Kalimantan Barat

0Komentar

Special Ads
Special Ads
Special Ads